Kata Pengantar
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, karena segala rahmat dan karunia-Nya saya dapat menyelesaikan tugas laporan kuliah lapangan media pembelajaran biologi yaitu mengenai botani tumbuhan tinggi. Dalam laporan ini saya juga mengucapkan terimakasih kepada Bapak dosen yang telah membimbing saya dalam menulis laporan ini. Dalam laporan ini saya membahas tentang botani tumbuhan tinggi yaitu senduduk
Walau penulis masih menyadari kekurangan yang terdapat di dalam laporan ini, namun saya sangat mengharapkan kritikan dan saran yang membangun, agar laporan ini dapat lebih baik lagi.Semoga apa yang saya buat ini dapat memberikan tambahan ilmu tidak hanya di bidang taksonomi, namun menyangkut bidang lain secara keseluruhannya. Saya berharap Laporan Kuliah Lapangan ini mampu dilanjutkan untuk studi taksonomi kedepannya. Amiin.
Batam, Januari 2012
Penulis
DAFTAR ISI
LEMBAR JUDUL. ..............................................................................................
KATA PENGANTAR.........................................................................................
DAFTAR ISI........................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang ....................................................................... 1
I.2 Maksud dan Tujuan.....…………………………….........…... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Landasan Teori.......................………….………................... 3
BAB III METODE PENELITIAN
III.1 Waktu dan Tempat Penelitian………………..………........ 5
III.2 Alat dan Bahan..................................................................... 5
III.3 Metode Pengambilan Data.................................................. 5
III.4 Cara Kerja ......................................................................... 5
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 Morfologi………………………………………………. 8
IV.2 Klasifikasi……………………………………………... 9
BAB V PENUTUP
V.1 Kesimpulan......................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................... 12
LAMPIRAN……………………….………………………………............
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Praktikum lapangan sesunguhnya merupakan bentuk penelitian di lapangan, bedanya dengan penelitian umumnya hanya pada permasalahan yang diangkatnya. Pada penelitian permasalahan yang diangkat memang permasalahan yang belum ditemukan jawabannya, sedangkan pada praktikum lapangan mungkin permasalahan yang diangkat hanya untuk menunjukkan teori yang sudah ada agar dapat dipahami betul oleh peserta didik tapi dapat juga permasalahan yang diangkat belum ditemukan jawabannya sehingga praktikum lapangan yang dilakukan akan menemukan temuan-temuan baru.Pada praktikum lapangan di Desa Sembulang kecamatan galang Batam ini permasalan yang diangkat merupakan permasalahan yang sudah ada jawabannya (hanya menunjukkan teori yang sudah dipelajari).Permasalahan-permasalahan ini nanti akan disampaikan sebagai tugas-tugas praktikum yang harus dilakukan oleh mahasiswa sehingga dapat menemukan jawabannya.Untuk mendapatkan hasil observasi yang tepat dan berharga tentunya harus dilakukan dengan cermat, teliti, tercatat, dan terdokumentasikan. Sesuai dengan materi mata kuliah Botani Tumbuhan Tinggi maka fokus dari praktikum lapangan yang sudah dilakukan adalah pengenalan keragaman tumbuhan tingkat tinggi, baik dari jenis, habitat, cara hidup, asosiasi atau hubungan spesies tersebut dengan organisme lainnya,bentuk tubuhnya dan pemanfaatannya.Yang perlu diperhatikan dalam melakukan praktikun lapangan adalah kesiapan peralatan dan komponen-komponen yang dibutuhkan saat praktikum lapangan. Tempat praktikum lapangan biasanya jauh dari tempat tinggal kita dan juga sering tidak menyediakan peralatan yang kita butuhkan. Oleh karena itu semua peralatan yang diperlukan dalam melaksanakan praktikum harus disiapkan sebelum kita berangkat ke lapangan. Agar hasil yang didapatkan sesuai dengan yang diinginkan.
1.2 Maksud dan Tujuan
Adapun tujuan dari kuliah lapangan Taksonomi Tumbuhan Tingkat Tinggi ini serta laporan tertulis yang menyertainya adalah sebagai berikut:
1. Mampu mengidentifikasi jenis-jenis tumbuhan yang ditemukan di setiap lokasi pengamatan.
2. Mampu mendeskripsikan jenis-jenis tumbuhan yang ditemukan di setiap lokasi pengamatan.
3. Mampu mengklasifikasi jenis-jenis tumbuhan yang ditemukan di setiap lokasi pengamatan.
4. Sebagai aplikasi ilmu yang diajarkan pada saat perkuliahan di lapangan.
5. Mampu membuat herbarium
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Landasan Teori
Taksonomi tumbuhan sebagai cabang ilmu botani merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang identifikasi (penamaan), klasifikasi (pengelompokan) suatu tumbuhan ke dalam takson atau taksa tertentu dan deskripsi dari tumbuhan tersebut berdasarkan nomenklatur botani atau kode Internasional tata nama tumbuhan yang berlaku secara universal (Tjitrosoepomo, 1991).Taksonomi tidak hanya mengenalkan suatu taksa dengan teori-teori yang ada, tetapi taksonomi mengenalkan suatu tingkatan taksa dengan aplikasi dilapangan dengan cara mengumpulakn jenis-jenis yang ada disuatu tempat dan mampu menentukan klasifikasi dari jenis yang didapatkan yang didahului dengan mengidentifikasi jenis tersebut disertai dengan referensi yang ada, hal inilah yang dikenal dengan Kuliah Lapangan Batam pada umumnya tergolong datar dengan variasi bukit dengan ketinggian maksimum ± 160 meter diatas permukaan laut. Berdasarkan studi kondisi tanah yang telah dilakukan diketahui bahwa Pulau Batam mempunyai tingkat kesuburan yang rendah. Kondisi seperti ini menyebabkan tanah di Pulau Batam mempunyai tingkat kerawanan yang sangat tinggi terhadap erosi. Hutan yang terdapat di Pulau Batam memiliki tipe hutan dataran rendah yang tidak umum terdapat di daerah tropis.
Desa sembulang kecamatan galang Batam merupakan nama tempat yang menjadi lokasi kuliah lapangan dan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kepulauan Riau denagn luas daerah 80
, dan terdiri dari berbagai macam habitat seperti hutan, persawahan, perbukitan, dan pemukiman penduduk serta adanya DAS yang merupakan aliran sungai yang dijadikan sumber air bagi penduduk setempat. Hutan yang ada tergolong hutan yang telah terjamah oleh manusia, hutan ini digunakan sebagai area peladangan bagi warga setempat dan topografi area perladangan umumnya datar dan bertanah liat.Melastoma candidum (senduduk) Senduduk merupakan tumbuhan yang tergolong kumpulan rumpai. Ia merupakan salah satu rumpai yang perlu dibasmi dalam amalan pertanian diladang atau kebun. nama ilmiahnya Melastoma candidum termasuk suku Melastomaceae. Nama melastoma berasal dari dua kata bahasa Yunani, yaitu melas artinya hitam dan stoma artinya mulut. Jadi nama ini dibuat berdasarkan sifat buahnya yang jika dimakan akan menyebabkan seluruh rongga mulut menjadi berwarna ungu kehitaman. Tanaman semak ini banyak tumbuh liar dan ditemui hampir di seluruh wilayah Indonesia. Paling tidak aku pernah melihatnya di Sumatra, Kalimantan dan Jawa.Bunganya indah berwarna ungu dengan benang sari kuning. Daun tebal dan berbulu dan bila dipeganga terasa agak tajam.Buahnya berbentuk lonceng terbalik, berwana keunguan. Bila telah matang buah akan pecah merekah seperti delima dan dagin buahnya sepeti butiran pasir.terdapat dua jenis pokok senduduk berdasarkan jenis bunganya yaitu ungu dan putih.tumbuhan ini berasal dari daerah Asia Tenggara, antara lain dari pulau Jawa dan Sumatera, tetapi sekarang sudah tersebar di banyak wilayah tropis, antara lain Amerika Latin, Hawaii, dan Asia tropis.Pokok renek ini biasa dijumpai dibelukar dan semak yangtidak terlalu tebal. Tinggi rata-rata pokok senduduk ialah 1 m namun ia boleh mencapai ketinggian hingga 3 m.
BAB III
METODE PENELITIAN
III.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Kuliah lapangan Taksonomi Tumbuhan Tingkat Tinggi kali ini dilaksanakan pada hari Jum’at s/d Minggu tanggal 25 – 27 November 2011, di daerah Desa Sembulang Kecamatan Galang, Kepulauan Riau.
III.2 Alat dan Bahan
Pada kuliah lapangan yang telah dilaksanakan, alat yang digunakan adalah gunting tanaman, kertas koran, karung plastik, plastik ukuran karung, plastik ukuran 2 kg, plastik ukuran 5 kg, karet gelang, label gantung, parang, tali rafia, lakban, alat tulis, spidol permanent, jarum, benang, lem dan kertas karton.Bahan yang digunakan adalah jenis-jenis tanaman yang didapatkan di lapangan dan Alkohol 75 %.
III.3 Metode Pengambilan Data
Kuliah lapangan ini menggunakan metoda unit linier trans sepanjang 200 meter dengan pengamatan dari kiri ke kanan trans objek yang dijumpai disepanjang trans kemudian dilakukan pengukuran permeter vegetative dan generative.Di herbarium dilakukan pembuatan spesimen herbarium, studi spesimen, deskripsi, identifikasi, dan monograf dari jenis tumbuhan yang didapatkan.
III.4 Cara Kerja
1. Di lapangan
Alat-alat yang diperlukan disiapkan terlebih dahulu sebelum melakukan pengambilan serta pengoleksian secara langsung sampel di lapangan. Pengambilan sampel dilakukan terhadap tanaman tingkat tinggi, bukan tanaman budi daya dan tanaman tingkat rendah. Pengambilan sampel harus lengkap, dalam hal ini disertai dengan organ generatif dan organ vegetatif dan sampel dikoleksi dengan mengambil bagian sampel keseluruhan sepanjang 40 cm pada tanaman Melastoma Sp ( Senduduk) , dan sampel yang ditemukan diambil sebanyak satu. Apabila pada sampel yang ditemukan mempunyai buah yang lunak atau mudah lepas dari tangkainya dan sangat mudah rusak bagiannya, sebaiknya sampel tersebut dipisahkan dan dimasukkan ke dalam plastik dengan ukuran yang sesuai. Untuk tanaman herba, diambil hingga ke bagian batangnya. Jika sampel tersebut memiliki bunga yang mudah lepas, maka pisahkan dengan sampel yang lain. Sampel-sampel yang didapat, dipisahkan untuk tiap jenisnya dan ditandai dengan pemberian label gantung disertai nomor koleksi, jika ada sampel yang telah diketahui klasifikasinya dapat ditulis secara langsung pada label gantung menggunakan pensil. Setelah sampai di lokasi camp, sampel yang ditemukan di identifikasi, setelah itu masing-masing jenis disusun dan ditutupi dengan koran lalu disusun dalam plastik 50 kg dan diberi alkohol. Lalu disusun kembali di dalam karung dan diberi label, untuk dilanjutkan pengerjaannya di herbarium.
2. Di Herbarium
Semua koleksi dari lapangan dilakukan pengeringan di herbarium. Sebelum dimasukkan ke tempat pengeringan, spesimen disusun dalam apitan kertas koran satu per satu . Susunan ini diikat dengan tali rafia sehingga specimen terapit dengan rata. Kemudian dimasukkan ke tempat pengeringan. Pengeringan dilakukan dengan sinar matahari dengan suhu 29˚ - 32˚C selama 3 x 24 jam. Lama pengeringan tergantung pada jenis tumbuhannya.Spesimen yang telah dikeringkan selanjutnya direkatkan atau dijahitkan pada kertas karton putih dan dilengkapi ketikan disebelah kanan,kiri dan atas kertas.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 Morfologi
Senduduk merupakan tumbuhan yang tergolong kumpulan rumpai.Ia merupakan salah satu rumpai yang perlu dibasmi dalam amalan pertanian diladang atau kebun. nama ilmiahnya Melastoma candidum termasuk suku Melastomaceae. Nama melastoma berasal dari dua kata bahasa Yunani, yaitu melas artinya hitam dan stoma artinya mulut. Jadi nama ini dibuat berdasarkan sifat buahnya yang jika dimakan akan menyebabkan seluruh rongga mulut menjadi berwarna ungu kehitaman.
Terdapat dua jenis pokok senduduk berdasarkan jenis bunganya yaitu ungu dan putih.
Batang :
Batangnya bentuk bulat berwarna kemerahan dan dilitupi oleh bulu-bulu halus.
Daun :
Daunnya berwarna hijau dan berbulu halus, merupakan daun tunggal, bertangkai, letak berhadapan bersilang. Helai daun bundar telur memanjang sampai lonjong, ujung lancip, pangkal membulat, dan tepinya rata. Permukaan daunnya berambut pendek yang jarang dan kaku sehingga terasa kasar jika diraba, dengan 3 tulang daun yang melengkung, panjang 4-20 cm dan lebar 1-6 cm. Bunganya berwarna ungu, indah dan tampak mencolok, sehingga dari jauh pun pohon senduduk ini dapat dikenali dengan mudah.
Bunga :
Bunganya cantik dan mempunyai 5 kelopak dengan stamen berwarna kuning ditengah-tengahnya. Bunga senduduk yang paling biasa dijumpai berwarna ungu gelap hingga ke merah jambu dan putih. Jenis berwarna putih ialah jenis yang paling jarang dijumpai tumbuh liar. selalunya ia ditanam untuk tujuan perubatan
Buah :
Buahnya kecil-kecil, bulat agak lonjong dengan bagian atasnya membentuk seperti sayap, bekas kelopak bunga yang sudah gugur. Diameter buahnya lebih kurang 0,5-1,5 cm, permukaan luarnya berbulu. Ketika muda kulit buah berwarna hijau kemerahan, dan jika sudah masak akan berwarna merah keunguan. Bagian dalam buah berwarna ungu gelap, agak berair dan rasanya manis, dan sebagaimana tadi sudah saya sampaikan, akan membuat seluruh rongga mulut, bibir, dan lidah, menjadi berwarna ungu. Biji senduduk kecil-kecil, warnanya cokelat. Bagian dalam alias bagian buah yang dapat dimakan mengandung gula dan berbagai senyawa-senyawa flavonoid yang bersifat antioksidan. Apabila sudah sangat ranum, buah senduduk mudah pecah di pohon memperlihatkan biji-bijinya yang kecil-kecil dan banyak. Itu sebabnya buah senduduk jarang diperjualbelikan, karena agak sukar mengumpulkan cukup banyak buah senduduk ranum yang tidak pecah dari pohonnya.
IV.2 Klasifikasi
Nama Tempatan:Senduduk
Nama Saintifik:Melastoma malabathricum
Nama Lain:Keduduk,senggani,Straits Rhododendron
Famili:Melastomataceae
Asal : berasal dari daerah Asia Tenggara, antara lain dari pulau Jawa dan Sumatera, tetapi sekarang sudah tersebar di banyak wilayah tropis, antara lain Amerika Latin, Hawaii, dan Asia tropis.
Kegunaan:
1. Sebagai tumbuhan untuk mengembalikan kecergasan badan terutamanya selepas bersalin.
2. Untuk menyembuhkan luka
3. Untuk merawat cirit birit, brak berdarah dan buasir M
4. Menghilangkan parut akibat pelentong/bertih/cacar air
BAB IV
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil kuliah lapangan yang saya lakukan di Desa Sembulang Kecamatan Galang Batam pada tanggal 25 November s/d 27 November 2011 , kebanyakan dari tumbuhan yang saya ditemukan perdu dan semak jarang ada tumbuhan pohon karena daerahnya berdekatan dengan laun dan kebanyakan terdapat hutan mangrove. Di sana terdapat beragam tumbuhan, mulai dari jenis, macam daun, tipe percabangan, macam buah dan beragam sekali pemanfaatannya.Tumbuhan Tingkat tinggi yang saya temukan adalah Melastoma Sp (senduduk). Tumbuhan yang tumbuh di sana sangat bervariasi, dari setiap stasiun di temukan tumbuhan yang berbeda, hal ini dapat disebabkan karena ada faktor lingkungan yang mempengaruhinya, antara lain: suhu, pH,cahaya matahari dan kelembaban tanah. Organisme beradaptasi dengan lingkungannya dan memodifikasi lingkungan fisiknya untuk mengurangi pembatas dari suhu, cahaya, air dan kondisi fisik lain yang ada.
DAFTAR PUSTAKA
Tjitrosoepomo, G. 1991. Dasar-Dasar Taksonomi Tumbuhan. Universitas
Gadjah Mada : Yogyakarta.
www.google.com/wikipedia
Tjitrosoepomo, G. 2000. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Universitas
Gadjah Mada : Yogyakarta.

Kepulauan Riau Time
Indonesian Rupiah Converter
0 komentar:
Posting Komentar